Sunday, 20 January 2013
Karume Toraja
Pagi itu, angin bertiup sangat kencang. bukan kali yang pertama. Hampir seminggu terakhir ini, cuaca tidak terlalu bersahabat dengan tubuh Asia sepertiku. Percik salju beterbangan dan angin berhembus bak kucing sedang birahi. ramai menderu tak karuan. Setiap hari selalu aku tertipu dengan ramalan cuaca. Pagi berangin dan sore hujan salju, tapi kenyataanya pagi angin bersalju dan begitupun sorenya begitu seterusnya. Bagiku tidak ada bedanya, selalu angin dan salju serasi merusak prakiraan kejadian bumi di Negeri ini, negeri para kesatria Highlander. Ya begitulah kira-kira penggambaran daerah utara Inggris raya, tempatku belajar dan menuntut ilmu. Pagi ini pun sama, yang berbeda aku punya banyak rencana sehari ini walupun pasti lazimnya cuaca akan konsisten dengan ketidak pastiannya. Kuawali hari dengan sarapan, aku sedang suka dengan muscle tumis sawi pedas, sebuah menu hasil eksperimen yang secara tidak sengaja kemudian cocok dengan seleraku. Jadilah aku tujuh hari ini tak bosan mengkonsumsi menu homogen ini tanpa jenuh. Tak ada kelas pagi hari ini. Aku akan ke city berbelanja bulanan dengan banyak list yang sudah kubuat. Dengan cuaca seperti ini, siasat yang paling baik adalah menyimpan banyak persediaan makanan, agar tidak payah ketika lapar logistik selalu siap sedia secukupnya. Tak disarankan terlalu sering bepergian di luar saat musim yang extreme seperti ini. Selain berbelanja, aku juga berniat membaca Karume. Rindu dengan tanah kelahiran Tana - Toraja setelah 9 tahun tidak kembali, banyak hal yang kurindu dari Tondok Lepongan bulan. Salah satu dari yang bisa kuingat adalah Karume, sebuah bentuk kekayaan sastra milik Toraya - sebuah bait metafor yang menghibur. Seperti pantun tetapi tidak terikat dengan rima. Biasanya dibaca dan dilakukan ketika sedang santai bersenda gurau, lebih berfungsi sebagai hiburan jenaka yang berpola tebakan namun dirangkai dengan metafora unik yang mengacu kepada sesuatu benda atau pesan. Sudah lama tidak kupakai Basa Toraya ku, tapi cukup lah untuk membaca Karume walupun mungkin tidak sefasih dulu- 9 tahun yang lalu. Sedikit mengobati rindu dan semoga bisa mengunci cintaku pada Tana-Toraja.
DAUN GOGROK
Sebuah Puisi yang terinspirasi dari keanehan-keanehan hidup di negeri orang, segala sesuatu menjadi tampak aneh dan luar biasa, yang sebenarnya adalah hal yang lazim dan tidak istimewa jika terjadi di kampung halaman tercinta, negeri syurga kaya dengan limpahan cahaya mentari, hujan tropis dan hangat sepanjang tahun. Puisi ini cukup mewakili keadaan pelajar rantau yang jauh dari keluarga sanak keluarga, juga anak dan istriku. Kubaca, setelah dibuat puisi ini oleh seorang sahabat dan beliau juga adalah sosok ibu yang banyak menasehati saya untuk tetap wajar ditengah ketidakwajaran lingkungan dan keadaan. Special thanks buat beliau yang sewaktu puisi ini dibuat sedang study sandwic programme di Ohio State University - United States. Beliua membuat puisi ini setelah membaca banyak postingan face book termasuk postingan saya yang saya beri judul Godong Gogrok, yang kemudian menjadi judul puisi beliau. Puisi ini direkam sore hari, sudah masuk winter, dan sang mentari sudah jarang menampakkan diri, sekali ini tumben ada cahaya dan belum terlalu gelap seperti biasanya. Kuambillah pena, segera kutulis ulang puisi ini dan ada teman kebetulan yang sedang mampir ke flat membantu mrekam pembacaan puisi ini. Anginnya sangat kencang, walau sebenarnya lumayan tidak sekencang biasanya, jadi suara nya bercampur baur dengan gemuruh kencang angin yang berhembus sore itu.
Sebuah Puisi yang terinspirasi dari keanehan-keanehan hidup di negeri orang, segala sesuatu menjadi tampak aneh dan luar biasa, yang sebenarnya adalah hal yang lazim dan tidak istimewa jika terjadi di kampung halaman tercinta, negeri syurga kaya dengan limpahan cahaya mentari, hujan tropis dan hangat sepanjang tahun. Puisi ini cukup mewakili keadaan pelajar rantau yang jauh dari keluarga sanak keluarga, juga anak dan istriku. Kubaca, setelah dibuat puisi ini oleh seorang sahabat dan beliau juga adalah sosok ibu yang banyak menasehati saya untuk tetap wajar ditengah ketidakwajaran lingkungan dan keadaan. Special thanks buat beliau yang sewaktu puisi ini dibuat sedang study sandwic programme di Ohio State University - United States. Beliua membuat puisi ini setelah membaca banyak postingan face book termasuk postingan saya yang saya beri judul Godong Gogrok, yang kemudian menjadi judul puisi beliau. Puisi ini direkam sore hari, sudah masuk winter, dan sang mentari sudah jarang menampakkan diri, sekali ini tumben ada cahaya dan belum terlalu gelap seperti biasanya. Kuambillah pena, segera kutulis ulang puisi ini dan ada teman kebetulan yang sedang mampir ke flat membantu mrekam pembacaan puisi ini. Anginnya sangat kencang, walau sebenarnya lumayan tidak sekencang biasanya, jadi suara nya bercampur baur dengan gemuruh kencang angin yang berhembus sore itu.
Sebuah Puisi yang terinspirasi dari keanehan-keanehan hidup di negeri orang, segala sesuatu menjadi tampak aneh dan luar biasa, yang sebenarnya adalah hal yang lazim dan tidak istimewa jika terjadi di kampung halaman tercinta, negeri syurga kaya dengan limpahan cahaya mentari, hujan tropis dan hangat sepanjang tahun. Puisi ini cukup mewakili keadaan pelajar rantau yang jauh dari keluarga sanak keluarga, juga anak dan istriku. Kubaca, setelah dibuat puisi ini oleh seorang sahabat dan beliau juga adalah sosok ibu yang banyak menasehati saya untuk tetap wajar ditengah ketidakwajaran lingkungan dan keadaan. Special thanks buat beliau yang sewaktu puisi ini dibuat sedang study sandwic programme di Ohio State University - United States. Beliua membuat puisi ini setelah membaca banyak postingan face book termasuk postingan saya yang saya beri judul Godong Gogrok, yang kemudian menjadi judul puisi beliau. Puisi ini direkam sore hari, sudah masuk winter, dan sang mentari sudah jarang menampakkan diri, sekali ini tumben ada cahaya dan belum terlalu gelap seperti biasanya. Kuambillah pena, segera kutulis ulang puisi ini dan ada teman kebetulan yang sedang mampir ke flat membantu mrekam pembacaan puisi ini. Anginnya sangat kencang, walau sebenarnya lumayan tidak sekencang biasanya, jadi suara nya bercampur baur dengan gemuruh kencang angin yang berhembus sore itu.
Friday, 14 September 2012
Jumat Pertama di Aberdeen
Hari ini hari jumat. Hari jumat pertamaku di Aberdeen. Dan aku sama sekali belum tahu dimana mesjid buat sholat Jumat hari ini. Jangankan mesjid, kampus saja belum hafal dimana gedung kuliahku. Hari ini cuaca cerah, langit terang, matahari bersinar walupun angin kencang selalu berhembus, membuat seluruh tubuh dingin. Pasti ketemu lah mesjidnya, kunyalakan laptop butut kesayanganku, search ke google map dan benar saja, segera ketemu Spital Mosque Aberdeen. Setelah kutelusuri, sepertinya kalau membaca petunjuk di map, tidak jauh menurut perkiraanku. Kalu aku tidak salah mengerti sekitar beberapa block saja dari rumah kosku. Jumat Khutbah dimulai jam 1 siang, masih pagi dan aku tidak mau berlama-lama dikamar. Aku akan memutari dan berkeliling. Arah pertama ku ambil ke kanan, setelah keluar gerbang langsung mengambil rute kanan, lurus dan lurus (aku tidak menimbang arah). Pagi ini lumayan ramai. Banyak yang hilir mudik ke arah kampus dan sebaliknya. Aku tak tahu mau kemana, ya pinginnya jalan terus ya aku turuti saja naluriku. Tak lama berselang, ada pak Danang, seorang mahasiswa Indonesia juga, beliau sedang mengambil PhD bidang kimia. Setelah bertegur sapa, kutanyalah beliau, jumatan nya dimana pak? segera ditunjukkan ke arah yang memang kutuju dari awal. Walupun tidak terlihat jelas dibagian mana mesjidnya. Lalu pamit dan lanjutlah aku berjalan. Diperjalanan aku bertemu pertigaan, kulihat ramai ke arah kiri, lalu aku ikut dan ingin mengambil arah itu. Setelah kira kira 20 menit aku berjalan, aha teringat kenapa tidak tanya stadion sepak bola Aberdeen saja?......Okay arah ku sekarang punya tujuan- ke stadion bola Aberdeen.
Sekali bertanya masih belum jelas, dua kali bertanya,ah ternyata tidak jauh dari tempatku berdiri, bergegaslah aku. Dan kutemukan bangunan besar berwarna merah bata disana kubaca ada tulisan Aberdeen Football Stadium
Setelah puas mengambil gambar dari setiap sudut stadion, aku melihat ada official store dari Aberdeen FC, aku tak menunggu lama, masuk dan diakhir rekreasi mataku - ada 2 pin logo club yang kubeli seharga 1 pound. Senang hatiku. Puas dan teringat sudah jam 1 kurang 10 menit. waktu jumatan sudah hampir tiba. Aku bergegas ke arah balik dari rute pertamaku yang sebenarnya aku juga tidak yakin apakah aku mengambil rute yang sama. Kali ini aku agak cepat berjalan sambil setengah berlari. sudah jam 1 lebih 5 menit dan aku belum menemukan mesjid yang kucari. Saatnya bertanya lagi, aku bertanya kepada seorang bapak setengah baya dipinggir trotoar sedang menarik container sampah. Nihil jawabnya. Lalu aku mencoba bertanya lagi kepada seorang laki-laki yang lebih muda dari lelaki pertama. Hasilnya juga persis nihil Kulihat jam tanganku menunjukkan 1.30 sudah waktu Jumat aku bergegas, nah di kejauhan ada seorang wanita separuh baya, berkerudung dan mendorong kereta denga 2 anak balita. Aku yakin pasti beliau tahu. Dan hasilnya benar, kusapa salam lalu dijawabnya salamku, juga pertanyaanku. Ternyata aku berdiri sekitar 5 meter saja dari mesjid. Alhamdulillah, Mesjid kutemukan. Dan memang kalu sepintas orang asing sepertiku akan sulit mengenali bahwa itu adalah mesjid karena bentuk bangunannya sama persis dengan yang semua bangunan disekitarnya. Pembedanya hanyalah logo kecil diatas pintu masuk yang tertulis Mosque.
Didalam mesjid sudah penuh sesak, karena memang aku terlambat. Khutbah baru saja dimulai. Sempit dan berdesak- desakan. tetapi kurasa teduh nyaman. Ketika Iqamah dikumandangkan serentak jamaah berdiri segera bersiap menunaikan sholat Jumat. Mesjidnya jauh lebih kecil dari musholla yang ada di Solo, tetapi kehangatan dan rasa bersaudara terasa lebih besar daripada ketika aku sholat di Mesjid Besar di Solo.
Setiap yang bertemu, berpelukan dan mneyapa salam lalu disusul sapaan brother yang memberiku rasa sangat berbeda. Dari sekian ratus sholat jumatku inilah jumat pertamaku di Aberdeen.
Mesjid berdempetan dengan bangunan yang lain
Di tempat inilah para muslim Aberdeen beribadah
Papan nama kecil penanda bahwa ini adalah mesjid
Pintu depan Mesjid Spital, Aberdeen
Jarak mimbar dan jamaah sangat dekat
Sempit, tetapi sangat luas bersaudara dalam Islam
Aberdeen FC
Thursday, 13 September 2012
What does NOT kill you, makes you stronger!
Minggu pertamaku tiba di negeri para kesatria,negeri sang pujangga
ternama - pesohor cinta dari negeri paling utara Inggris Raya, yang pertama
kali kukenal dikelas waktu kuliah dulu -Robert Burns- beliau si empunya
puisi paling romantis sejagat raya - bukan saja aku, hampir semua mahasiswa/i
di tempat ku kuliah dan mengajar sekarang fasih dan pasti kenal mahakarya nya RED
RED ROSE, salah satu karya THE NATIONAL POET. Sekarang aku disini,
sudah kuhirup udara yang sama di atas tanah yang sama di negeri tempat lahirnya
sang legenda. Baru tersadar seminggu sudah berlalu aku tidak di Indonesia,
walupun sebenarnya belum cukup sadar, wajahku saja belum lepas ikhlas dan
seirama dengan kahanan disekitar. Masih ling lung disorientasi dengan waktu dan jam tidurku. Bukti lain, hampir
semua foto wajahku yang ku jepret dengan kamera saku ku selalu menampilkan
wajah aneh, ekspresi antara merana dan bahagia, susah mendeskripsikannya. Pose
nya sama, hampir 70 persen foto di zoom ke arah jidat, lalu posisi leher
setengah serong mendongak 20 derajat kearah kamera (PS; kameranya dipegang oleh
tangan sendiri - kasian) senyum yang terpaksa tidak jelas tema nya. Kusebut
masa ini sebagai masa "jet-lag acute".
Belum banyak yang kutahu tentang kota ni, selain front gate dan back gate
sebagai satu-satunya exit dari flat tempatku itu saja. Rumah ini menurutku
kurang pantas disebut kos- kosan - selain karena ada landlordnya juga
aturan penghuninya yang tidak sembarang, harus ada seleksi dan rekomendasi bagi
yang ingin dan akhirnya boleh bertempat tinggal di sini. Berlantai 4, bergaya Edwardian
Classic dengan cerobong asap yang sangat Classy, aku adalah
dari sedikit yang beruntung bisa stay di rumah ini- begitu aku lebih nyaman
menyebutnya.. Rumah ini adalah salah satu bangunan paling tua yang ada di
Aberdeen - College Bound 53, dari namanya memang menggambarkan bagaimana
dulunya bangunan ini adalah bagian kampus. adalah bangunan yang pertama
didirikan dipersembahkan untuk Professor Priest pertama yang jebolan Aberdeen
University. dan membuatku semakin kagum dan sedikit tertegun umurnya sama
dengan umur kampusku kurang lebih 600 an tahun sudah berdiri tanpa renovasi
bentuk yang berarti. Sangat tua , tapi sekaligus sangat indah. Satu- satunya
rumah aseli Aberdeen yang mempunya halaman - garden yang lebih
luas daripada letak rumah berdiri. dengan kolam dan fountain tepat
didepan house. banyak bunga dan tanaman yang terawat rapi garden house
ini.
Selebihnya aku tidak tahu, yang kutahu - belum sepuluh hari aku
tiba di negeri asing ini, aku sudah harus menunda explorasiku tentang rumah dan
sejarahnya. (cerita tentang rumah ada di note blog yang lain) Statusku sebagai
mahasiswa belum jelas- ada perjuangan berat yang butuh pikiran dan tenagaku.
VISA students TIER-4 ku tiba-tiba di curtailed dianggap tidak berlaku
lagi,karena secara mendadak setelah tiba di UK, Jurusan yang ku apply,
secara sepihak mengumumkan tidak jadi buka kelas tahun ini karena kurangnya
pendaftar- alamat celaka! padahal kalau jurusan yang sudah menerima ku batal,
maka sebagai mahasiswa penerima beasiswa DIKTI VISA ku harus juga berubah--aku terancam harus kemabli ke Indonesia dengan status gagal!it
means harus balik lagi ke Indonesia untuk aplikasi ulang tahun depan!! padahal beasiswaku untuk tahun ini.
Remuk redam perasaanku, seperti tambah jetlag aku dibuatnya.
Seandainya pembatalan dilakukan jauh sebelum aku beli tiket sampai booked flat
aku bisa cari jurusan lain atau bahkan cari kampus yang lain. Waktuku tak banyak. Jawaban
kampus- enteng dan ringan " you have to go back to Indonesia and re-
apply the new VISA. Badalah It takes time and money. DEPORTASI.
Seperti aku disambar petir seketika! Itu solusi tunggal dari kampus untuk case
ni dan aku menolak menyetujui! Fight the
Fate! aku tidak mau kembali dan terlempar dari awal mimpiku ini.
Mimpi yang kukejar bertahun lamanya- tidak akan kulepas semudah itu- tidak bahkan
untuk sebuah kata DEPORTASI!! Hari ini kunyatakan perang dengan kampus!! Aku
sudah sampai ke Inggris, sangat jauh dari keluargaku dan deportasi tidak ada
dalam kamusku. Bagaimanapun caranya aku akan bertempur, ini adalah salah kampus
sepihak. Bukan salahku sama sekali. Aku sudah sulit untuk merasakan dinginnya kota ini. Panas kepalaku memikirkannya. Seperti mimpi terburuk yang pernah kualami.
Strategi perang kunubuatkan sejak hari ke 7. tidurku semakin
tidak nyeyak dan jetlag ku semakin parah ditambah rindu keluarga yang
sulit kutaklukkan. Setiap hari ada refreshment week -semacam acara penyambutan
mahasiswa baru. Disana selalu riuh rendah dengan tawa riang wajah-wajah
mahasiswa/i baru yang tidak harus berperang untuk mendapatkan Student Card. Mereka membuatku sangat iri, disaat aku
seharusnya berbahagia bersiap mengenal kampus juga perkuliahan se isinya bersama
mereka, malah aku mengunci semua tenga dan pikiranku untuk berjibaku
mendapatkan status mahasiswa ku, jurusan baruku dan kartu mahasiswa bukti sah
nya statusku. Semua masih jauh dari harapanku. Kusimpan kesalku,kulewati
senyum dan ramainya senda gurau mereka untuk meneruskan asa mimpiku. (kasihan). Jadwalku selalu satu- berkorespondensi secara sporadis dan bernegosiasi kelas
akut ke student advisor sampai ke para pimpnan jurusan di kampus. Setelahnya,
kutemui satu persatu untuk meluluh lantahkan segala hak dan tuntutanku menjadi
mahasiswa. Kuserang setiap birokrasi yang mengatasnamakan aturan agar aku
kembali ribuan mil ke kotaku SOLO. Sayang, masih seperti hari kemarin, selalu bertemu hasil
yang negatif- tak mau aku membayangkan bagaimana wajah istriku yang sudah
berkorban dan ikhlas aku berbagi tugas meninggalkan bidadariku yang baru
berumur belasan bulan tahu bahwa aku gagal no
way!!. Ku cari cara lain- KBRI kedutaan Besar Republik Indonesia juga
kuhubungi, masih belum ada kabar baik!tak ada response- tak ada bantuan bagi warga negara Indonesia
sedang koma karena jetlag akut dan perang yang belum tuntas. Aku
bergegas ke The Hub kantor pusat kampus tempas segala urusan dilayani-
semacam TU kalu dikampusku. Kuminta seorang International Advisor untuk
janji temu denganku, aku belum menyerah! Namanya berawalan huruf G- pertama
bertemu dengannya tak ada kesan harapan kulihat- perangainya sangat cuek- dan
penampilannya sangat masculine dengan rambut sangat cepak- bukan impresi yang
kuharapkan dari seorang waniata. Tapi misiku bukan untuk menjadi fashion
commentator atau personality forcester- adalah aku yang butuh bantuan nya- Mrs
G. Awalan pembuka casenya netral- melihat segala opsi yang mungkin. Berapi- api
aku bernegosiasi untuk sekecil apapun harapanku untuk menghindari DEPORTASI. Setelah
hampir 60 menit, aku habis. Berhenti- mengendurkan segala amarahku- PAUSE- aku sudah
habis peluru berbusa daguku mengadu! Sudah habis semua keluh kesahku tertumpah.
dan tiba-tiba Mrs G mentapku diam dan..berwajah
empatic.."but,,I think its not your fault!!!! aku tidak antusias tetep.
diluar dugaanku dia mengambil haknya meletup- meluap kan amarahnya- dan bukan
ke aku- tetapi jurusanku yang secara sepihak melakukan pemberitahuan. Akhirnya
ad sedikit opsi harapan hidupnya perjuanganku. Aku harus aplly lagi VISA tapi
tidak harus kembali, dengan syarat yang kuajukan harus ada jaminan VISA ku
diterima tidak ditolak. Accepted, Mrs G berubah menjadi lebih friendly dan baik
di akhir, dia menyarankan aku demand ke jurusan untuk menanggung biaya aplikasi
VISA nya sekitar 370 Poundsterling- jumlah yang tidak sedikti buat mahasiswa
modal beasiswa sepertiku. lalu jurusanku berganti menjadi Master of Research on
Education yang masih linear dengan bidang ilmuku.
I Fight the Fate!!Aku belum habis- setelah dua hari berikutnya
bertemu dengan para petinggi jurusan, Alhamdulilahirobbilalamiin- aku boleh
mengajukan VISA dari UK dengan jaminan diterima dan proses belajar dan
kegiatan belajarku secara administratif tidak terganggu. Walupun VISA ku
mungkin akan selesai setelah 4 bulan ketika aku sudah setengah perjalanan
kuliah. Aku tidak gentar, yang pasti aku menjadi mahasiswa dan siap memulai
eksplorasiku mengejar mimpiku menyelesaikan gelar Masterku.
Sampai pada titik ini aku siap! jadi teringat nasehat jagoan
animasi holywood - yang tidak bisa membunuhmu- membuatmu lebih kuat!!
I feel stronger now:) even more-- Setiap kali aku melihat kartu
mahasiswaku ini- selalu ada berjuta energi positif yang memancar dan tersalur
ke tubuhku- setiap kulihat benda tipis ini selalu kulihat perjuanganku untuk
mendapatkan kartu penerus mimpiku di negeri sang pujangga cinta:) untuk
keluarga yang kucinta.
dan kelegaan resolusi usahaku ini kurayakan dengan mblayang ketempat
yang aku tidak tahu,,tanpa melihat google map- kusengaja-berjala kemana kakiku
akan melangkah- dan berakhir dengan pertemuan pertamaku dengan Stadion terbesar
kebanggan Aberdeen- kuambil beberapa gambar-(dan masih jelas aku masih menjadi
penganut “Jetlag acute” aku ingin tetap menjaga semangat eksplorasi
tanpa batas yang baru saja kupelajari!What does not kill you -
make you strong!!
PERJALANAN DIMULAI DARI KOTA GUDEG
Semua Senyumku hilang seperti susah mengembang--hilang ditelan deru motor dan mobil juga gelak tawa serta ocehan Gylfie The Professor:)
Jam 8 lebih sekian detik--aku--mamah--Gylfie-mbak ucik mamak toraja, dan pae semua berkumpul di Klaten, Perak Gunungan. Pertemuan keluarga lengkap yang jarang kami lakukan. Semenjak aku kuliah, sudah sembilan tahun aku belum kembali ke tanah kelahiranku Tana- Toraja dan hari ini bukan hari yang biasa, beratus kilometer menyebrang laut dari sulawesi lalu sampai di negeri jawa keluargaku datang membawa obat rinduku. Sangat bahagia sekaligus sangat sedih cemas dan bercampur perasaan yang sulit. Hari ini hari hari pertama kami berkumpul keluarga secara lengkap. Tetapi besok, pagi hari sekaligus menjadi hari terakhirku tahun ini akan bertemu dengan mereka, dengan anak ku yang paling kusayangi, istriku yang selalu mengasihi mamak yang tak lelah merestui ku dan pae yang selalu menjadi panutanku. Aku akan berangkat mengemban tugas "masa deoan" untuk mereka- untuk keluargaku yang kucintai. Besok aku akan berangkat ke Ujung Utara Inggris. Menjemput mimpiku menuntut ilmu ke negeri para kesatria.
Rasa yang sepertinya akan selalu menjadi phobia abadiku. Di kota ini aku berpisah dengan keluargaku- istriku yang kusayangi, anakku – putri kebanggaanku Gylfie- mamakku Pae Mbka Ucik dan semua keluargaku. Aku benar- benar membayar besar. Menjadi pendorong semangatku untuk terus rajin dan giat menuntut ilmu di negeri salju ini. Tak satupun keluhku jika kuingat kembali kota ini. Seperti spirit ku kembali terpacu.
Jam 8 lebih sekian detik--aku--mamah--Gylfie-mbak ucik mamak toraja, dan pae semua berkumpul di Klaten, Perak Gunungan. Pertemuan keluarga lengkap yang jarang kami lakukan. Semenjak aku kuliah, sudah sembilan tahun aku belum kembali ke tanah kelahiranku Tana- Toraja dan hari ini bukan hari yang biasa, beratus kilometer menyebrang laut dari sulawesi lalu sampai di negeri jawa keluargaku datang membawa obat rinduku. Sangat bahagia sekaligus sangat sedih cemas dan bercampur perasaan yang sulit. Hari ini hari hari pertama kami berkumpul keluarga secara lengkap. Tetapi besok, pagi hari sekaligus menjadi hari terakhirku tahun ini akan bertemu dengan mereka, dengan anak ku yang paling kusayangi, istriku yang selalu mengasihi mamak yang tak lelah merestui ku dan pae yang selalu menjadi panutanku. Aku akan berangkat mengemban tugas "masa deoan" untuk mereka- untuk keluargaku yang kucintai. Besok aku akan berangkat ke Ujung Utara Inggris. Menjemput mimpiku menuntut ilmu ke negeri para kesatria.
Rasa yang sepertinya akan selalu menjadi phobia abadiku. Di kota ini aku berpisah dengan keluargaku- istriku yang kusayangi, anakku – putri kebanggaanku Gylfie- mamakku Pae Mbka Ucik dan semua keluargaku. Aku benar- benar membayar besar. Menjadi pendorong semangatku untuk terus rajin dan giat menuntut ilmu di negeri salju ini. Tak satupun keluhku jika kuingat kembali kota ini. Seperti spirit ku kembali terpacu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
